Manusia dan Kebudayaan
“MANUSIA DAN KEBUDAYAAN”
1.1 Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari bahasa sansekerta “manu”, dan bahasa latin “mens”, yang berarti berpikir, berakal budi. Secara istilah manusia dapat diartikan sebagai sebuah konsep atau sebuah fakta, gagasan atau realitas, kelompok (genus) atau seorang individu. Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks. Pengertian manusia menurut para ahli :
a. Nicolaus D. & A. Sudiarja
Manusia seperti semboyan negara kita yaitu bhinneka tunggal ika. Manusia disebut bhinneka tunggal ika karena ia mempunyai jasmani dan rohani.
b. Omar Mohammad Al-Toumi Al-Syaibany
Manusia adalah makhluk yang mulia. Manusia merupakan makhluk yang mampu berpikir, dan merupakan makhluk 3 dimensi (badan, ruh, dan akal). Manusia di dalam proses tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan.
c. Paula J. C. & Janet W. K.
Manusia merupakan makhluk yang terbuka, bebas memilih makna di dalam setiap situasi, mengemban tanggung jawab atas setiap keputusan, yang hidup secara berkelanjutan, serta turut menyusun pola hubungan antar sesama dan unggul multidimensional dengan berbagai kemungkinan.
1.2 Pengertian Hakekat Manusia
Hakekat manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep yang mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusia di dunia. Pengertian hakekat manusia berkenaan dengan “prinsip adanya” manusia. Dengan kata lain, pengertian hakekat manusia adalah seperangkat gagasan tentang “sesuatu yang olehnya” manusia memiliki karakteristik khas yang memiliki sesuatu martabat khusus”. Aspek-aspek hakekat manusia, antara lain berkenaan dengan asal-usulnya : manusia sebagai makhluk Tuhan, struktur metafisikanya : manusia sebagai kesatuan badan-ruh, serta karakteristik dan makna eksistensi manusia di dunia : manusia sebagai makhluk individual, sebagai makhluk sosial, sebagai makhluk berbudaya, sebagai makhluk susila, dan sebagai makhluk beragama.
1.3 Kepribadian Bangsa Timur
Kepribadian bangsa Timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Kepribadian bangsa Timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat toleransi yang tinggi. Kepribadian bangsa Timur, kita tinggal di Indonesia ini juga termasuk dalam bangsa Timur, dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Di dunia bangsa Timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Orang-orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian bangsa Timur yang tidak individualisme dan saling tolong menolong satu sama lain. Meskipun begitu, kebanyakan bangsa Timur masih tertinggal oleh bangsa Barat.
Bangsa Timur identik dengan benua Asia yang penduduknya sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang dan adapula yang berkulit putih, bermata sipit, dan sebagian besar cara berpakaian orang di bangsa Timur lebih sopan dan tertutup, mungkin karena orang timur kebanyakan memeluk agama islam dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Namun di zaman sekarang ini orang Timur lebih kebanyakan meniru kebiasaan orang Barat. Kebiasaan orang Barat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan kebiasaan orang Timur dan hal ini dapat mempengaruhi kejiwaan orang Timur itu sendiri.
Pada umumnya kepribadian bangsa Timur adalah sangat terbuka dan toleran terhadap bangsa lain, tetapi selama masih sesuai dengan norma, etika serta adat istiadat yang ada. Namun walaupun kita sudah tahu banyak tentang kepribadian bangsa Timur kita tidak bisa selalu beranggapan bahwa kebudayaan bangsa Timur lebih baik dari bangsa Barat. Karena semua hal pasti ada sisi positif dan sisi negatifnya. Karena di dunia ini tidak ada yang sepenuhnya baik.
1.4 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari kata budaya, sedangkan budaya adalah bentuk jamak dari kata budidaya yang berarti cinta, karsa, dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta buddayah yaitu bentuk jamak kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa Inggris, kata budaya berasal dari kata culture, dalam bahasa Belanda diistilahkan dengan kata cultuur, dalam bahasa Latin, berasal dari kata colera yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagas.i segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Pengertian budaya atau kebudayaan menurut para ahli :
a. J.J. Honigmann
Membuat tiga perbedaan tiga budaya, yaitu idea (ide), aktivitas (tindakan), dan artifact (karya).
b. Talcott Parsons & A.L Kroeber
Kebudayaan adalah “menganjurkan untuk membedakan antara wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari gagasan-gagasan serta konsep-konsep, dan wujud-wujudnya sebagai rangkaian tindakan aktivitas manusia yang berpola”.
c. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan juga dibeda-bedakan dengan 4 wujudnya :
a. Nilai-nilai budaya
b. Sistem Budaya
c. Sistem sosial
d. Kebudayaan fisik
d. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dalam definisi yang dikemukan oleh Selo sumarjan dan Soelaeman Soemardi, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani agar hasilnya dapat digunakan untuk keperluan masyarakat, misalnya :
1. Karya (kebudayaan material) yaitu, kemampuan manusia untuk menghasilkan benda atau lainnya yang berwujud benda
2. Rasa, didalamnya termasuk agama, ideology, kebatinan, kesenian, dan semua unsure ekspresi jiwa manusia yang mewujudkan nilai-nilai social dan norma-norma social.
3. Cipta merupakan kemampuan mental dan berpikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan.
e. Herkovits
Kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia. Dengan demikian kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun non-material. Sebagian besar ahli yang mengartikan kebudayaan seperti ini kemungkinan besar sangat dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa kebudayaan itu akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks.
1.5 Unsur-Unsur Kebudayaan
Wujud kebudayaan antara satu budaya dengan budaya lain memiliki perbedaan, hal ini disebabkan karena dalam masyarakat terdiri atas berbagai unsur, baik yang besar maupun yang kecil yang membentuk satu kesatuan. Ada banyak pendapat tentang unsur-unsur yang membentuk suatu kebudayaan yaitu :
· Melville J. Herskovits
1. Unsur-unsur kebudayaan terdiri dari :
2. Alat-alat teknologi
3. Sistem ekonomi
4. Keluarga
5. Kekuasaan politik
· Bronislaw Malinowski
Unsur-unsur kebudayaan terdiri dari :
1. Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antar anggota masyarakat agar menguasai alam sekelilingnya
2. Organisasi ekonomi
3. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan, perlu diingat bahwa keluarga adalah lembiga pendidikan yang utama
4. Organisasi kekuatan
· C. Kluckhohn
Terdapat tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal (cultural universal), artinya ketujuh unsure ini dapat ditemukan pada semua kebudayaan bangsa di dunia, yaitu:
1. Sistem religi
2. Sistem pengetahuan
3. Sistem matapencaharian hidup
4. Sistem peralatan hidup atau teknologi
5. Organisasi kemasyarakatan
6. Bahasa
7. Kesenian
Tiap-tiap unsur kebudayaan itu dapat diperinci menjadi unsur-unsurnya yang lebih kecil hingga beberapa kali. Dengan metode Raplh Linton pemerincian dapat dilakukan hingga empat kali. Karena serupa dengan kebudayaan dalam keseluruhan, setiap unsur kebudayaan universal itu juga mempunyai tiga wujud, yaitu wujud sistem budaya, wujud sistem sosial, dan wujud kebudayaan fisik sehingga perincian dari ketujuh unsur tersebut masing-masing harus juga dilakukan mengenai ketiga wujud tersebut. Wujud sistem budaya dari unsur kebudayaan universal berupa adat dan pada tahap pertamanya adat dapat diperinci lagi menjadi beberapa kompleks budaya. Kompleks budaya dapat diperinci lagi menjadi menjadi tema budaya. Akhirnya pada tahap ketiga tiap tema budaya dapat diperinci dalam gagasan.
1.6 Wujud Kebudayaan
Kebudayaan juga memiliki wujud-wujud tertentu, bisa berupa gagasan, aktivitas, atau kebudayaan fisik. Terdapat 2 teori mengenai wujud-wujud budaya yang sering menjadi referensi, yakni menurut J.J. Hoenigman dan Koentjaraningrat.
a. Wujud Kebudayaan Menurut J.J. Hoenigman
Menurut J.J. Hoenigman, terdapat 3 wujud-wujud kebudayaan, yakni gagasan, aktivitas, dan artefak. Berikut merupakan penjelasan wujud kebudayaan menurut J.J. Hoenigman selengkapnya :
1. Gagasan (Ide)
Wujud kebudayaan yang pertama adalah gagasan atau wujud ideal, yang bersifat abstrak. Sifatnya tidak bisa diraba, direkam, atau dilihat. Gagasan hanya ada dalam pikiran individu yang menganut kebudayaan tersebut.
Contoh : norma, adat istiadat, agama, atau hukum yang berlaku di suatu daerah.
2. Aktivitas (Tindakan)
Aktivitas atau tindakan yang juga termasuk dalam wujud budaya. Sifatnya adalah konkret, dapat dilihat atau direkam. Maksudnya adalah aktivitas atau kegiatan sosial yang berpola dari individu dalam suatu masyarakat, yang saling berinteraksi dan berhubungan secara berkelanjutan dengan sesamanya.
Contoh : acara perkawinan, upacara adat, ritual keagamaan, proses pemilihan pemimpin, dan sebagainya.
3. Artefak (Karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan.
Contoh : wayang golek, kain songket, senjata tradisional, pakaian adat, dan sebagainya.
b. Wujud Kebudayaan Menurut Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat, terdapat 4 wujud-wujud kebudayaan, yakni nilai-nilai budaya, sistem budaya, sistem sosial, dan kebudayaan fisik. Berikut merupakan penjelasan wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat selengkapnya.
1. Nilai-Nilai Budaya
Nilai-nilai budaya ini merujuk pada pusat dari semua unsur budaya lainnya, dimana nilai-nilai kebudayaan menjadi gagasan yang telah dipelajari oleh masyarakat sejak dini.
2. Sistem Budaya
Sistem budaya ini menjelaskan bahwa kebudayaan bersifat abstrak sehingga hanya dapat diketahui dan dipahami, serta berpola dan berdasarkan pada sistem-sistem tertentu.
3. Sistem Sosial
Sistem sosial menjelaskan bahwa kebudayaan bersifat konkret. Hal ini berarti budaya dapat diabadikan berupa pola-pola tingkah laku manusia yang menggambarkan wujud tingkah laku manusia yang dilakukan berdasarkan sistem.
4. Kebudayaan Fisik
Kebudayaan fisik merupakan jenis wujud terbesar dan bersifat konkret. Contoh nyata adalah bangunan-bangunan yang mengandung corak budaya yang ada bentuk fisiknya.
1.7 Orientasi Nilai Budaya
Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki sistem nilai. Menurut C. Kluckhohn dalam karyanya Variations in Value Orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu :
1. Hakekat Hidup Manusia
Ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu menganggap hidup sebagai suatu hal yang baik, “mengisi hidup”.
2. Hakekat Karya Manusia
Ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.
3. Hakekat Waktu Manusia
Ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau masa yang akan datang.
4. Hakekat Alam Manusia
Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.
5. Hakekat Hubungan Manusia
Ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertical (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pula yang berpandangan individualistis (menilai tinggi kekuatan sendiri).
1.8 Perubahan Kebudayaan
Kebudayaan akan musnah jika masyarakat tidak lagi menggunakannya. Dalam mempelajari kebudayaan selalu harus diperhatikan unsur-unsur yang mempengaruhi budaya itu cenderung berubah dan situasi serta kondisi yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan. unsur-unsur perubahan kebudayaan dikarenakan antara lain:
1. Unsur Mata Pencaharian
Mata pencaharian dengan sistem tradisional cenderung berubah menjadi suatu sistem yang lebih maju. Perubahan mencakup sistem produksi, distribusi, konsumsi. Perubahan tersebut disebabkan :
(a) rasa tidak puas terhadap keadaan dan situasi yang ada
(b) sadar akan adanya kekurangan-kekuarangan
(c) usaha-usaha menyesuaikan diri dengan perubahan jaman
(d) meningkatnya kebutuhan
(e) adanya keinginan untuk neningkatkan taraf hidup
(f) sikap terbuka terhadap hal-hal baru (inovatif) Dengan demikian system mata pencaharian hidup cenderung berubah dari masa ke masa, seiring dengan perubahan jaman, perkembanan ilmu dan teknologi, serta pola hidup.
2. Unsur Sistem Teknologi
Manusia tidak dapat menutup diri dari kemajuan teknologi karena teknologi sendiri bermaksud memudahkan manusia. Keajuan teknologi berkembang seiring dengan meningkatnya pengetahuan manusia. Perkembangan teknologi dapat dilihat dari periodisasi zaman, yaitu zaman batu, zaman perunggu, zaman besi, dan kini disebut zaman moderen. Dengan demikian teknologi kecendrungan berubah seiring perkembangan akal dan pengetahuan manusia.
3. Unsur Pengetahuan
Sistem pengetahuan manusia mengalami perubahan menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan mendalami segi kehidupan . Oleh karena itu ilmu pengetahuan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dan tingkat keingintahuan manusia. Misalnya ilmupengetahun dulu menyebutkan Plato adalah sebuah planet, namun kini terbukti bahwa plato bukanlah sebuah planet.
Selain unsur-unsur penyebab perubahan kebudayaan, kita juga harus memperhatikan unsur-unsur penyebab bertahannya suatu kebudayaan antara lain:
1. Unsur Ideologi
Ideologi merupakan kumpulan gagasan, dasar, serta tatanan yang baik dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Ideologi adalah jiwa dan kepribadian bangsa yang menyebabkan suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain. Ideologi digunakan sebagai pedoman hidup suatu bangsa. Dengan demikian unsur idiologi ini kecendrungan tetap bertahan karena sudah diyakini kebenarannya oleh suatu masyrakat atau bangsa.
2. Unsur Kepercayaan / Religi
Semua aktivitas manusia yang berhubungan dengan kepercayaan / religi didasarkan pada suatu keyakinan akan kebenaran (keimanan). Oleh karena itu unsure kepercayaan atau religi ini cenderung tetap bertahan karena menyangkut keyakinan, kepatuhan atau keimanan yang diyakini.
3. Unsur Seni
Seni adalah sesuatu yang bersifat indah, seni melahirkan cinta kasih, kasih sayang, kemesraan, pemujaan, baik terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama manusia. Pengungkapan rasa seni dapat melalui musik, tari, lukis, sastra, dan sebagainya, sebagai hasil cipta, karsa, manusia yang cenderung bertahan dari masa ke masa.
4. Unsur Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi, penghubung suatu maksud antar manusia, dari bahasa kita dapat mengungkapkan apa yang kita inginkan.Bahasa kecendrungan tetap berubah dari masa ke masa, meskipun kosa katanya semakin berkembang, tanpa bahasa manusia tidak dapat berhubungan satu sama lain.
1.9 Kaitan Manusia dan Kebudayaan
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya adalah walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya.
Dari sisi lain, hubungan antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :
· Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Melalui eksternalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan buatan manusia.
· Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia. Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi bahkan membentuk perilaku manusia.
· Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya, bahwa manusia mempelajari kembali masyarakat.
Sumber :
http://www.elearning.gunadarma.ac.id/index.php?option=com_wrapper&Itemid=36
Comments
Post a Comment